Gemparkutim.com, SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih menjadi perhatian meski jumlah kejadian harian mulai berkurang. Berdasarkan pemantauan satelit pada 25 Oktober 2026, sebanyak 273 titik panas masih terdeteksi tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menjelaskan bahwa penurunan kejadian kebakaran terlihat dalam tiga hari berturut-turut, yakni pada 23–25 Oktober 2026. Jumlah kejadian yang semula mencapai 12 kasus turun menjadi 10 kasus, kemudian kembali berkurang menjadi lima kasus.
“Dalam tiga hari terakhir, kejadian karhutla harian menunjukkan penurunan. Dari sebelumnya 12 kejadian, turun menjadi 10, hingga tercatat lima kejadian pada 25 Oktober,” ujar Buyung, Kamis (29/10/2026).
Pada hari tersebut, kebakaran terjadi di empat wilayah. Penajam Paser Utara mencatat dua kejadian, sedangkan Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Bontang masing-masing mengalami satu kejadian.
Meski jumlah kejadian kebakaran menurun, data titik panas menunjukkan potensi kebakaran masih tersebar luas. Kukar menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, yakni 96 titik, disusul Kutai Timur sebanyak 85 titik dan Paser sebanyak 35 titik.
Sementara itu, Samarinda terpantau memiliki 15 titik panas dan Kutai Barat sebanyak 13 titik. Adapun Bontang, Berau, serta Penajam Paser Utara masing-masing mencatat sembilan titik. Dua titik lainnya terdeteksi di Mahakam Ulu.
Buyung mengatakan, sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu terus dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kebakaran baru maupun meluasnya api di wilayah terdampak.
“Pemantauan terus dilakukan di berbagai daerah, termasuk Kukar, Kutai Timur, Paser, Samarinda, Kutai Barat, Bontang, Berau, Penajam Paser Utara, dan Mahakam Ulu,” katanya.
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kaltim hingga 25 Oktober 2026, total kejadian karhutla sepanjang tahun ini mencapai 2.388 kasus. Luas area yang terdampak dilaporkan mencapai 9.969,31 hektare, dengan rincian 7.764,83 hektare lahan dan 2.165,98 hektare kawasan hutan.
Khusus selama Oktober 2026, tercatat 537 kejadian karhutla dengan luas area terdampak mencapai 2.270,05 hektare. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran masih menjadi ancaman meskipun frekuensi kejadian harian mulai menurun.
Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, BPBD Kaltim tetap mengerahkan personel gabungan dan menjaga kesiapan penanganan di lapangan. Langkah ini dilakukan agar titik api dapat segera ditangani dan risiko meluasnya kebakaran bisa ditekan.
“Seluruh personel gabungan tetap disiagakan untuk melakukan pemadaman serta mengantisipasi kemungkinan terjadinya karhutla,” tegas Buyung.
BPBD Kaltim juga terus memantau perkembangan titik panas dan laporan kebakaran dari berbagai daerah. Kesiapsiagaan tersebut dipertahankan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, terutama ketika terdeteksi potensi kebakaran di wilayah yang rawan.(cc)

















