SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyatakan rencana pembangunan penangkaran buaya hingga kini masih dalam tahap pengkajian, meski kasus serangan buaya terhadap warga terus terjadi di sejumlah wilayah.
Program penangkaran buaya tersebut sebelumnya masuk dalam 50 Program Unggulan Bupati Kutim.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan pemerintah daerah saat ini masih melakukan pembahasan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Penangkaran buaya sekarang sedang dalam proses pengkajian. Sambutan dari Menteri KKP cukup positif. Mereka siap membantu,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat tiga lokasi yang sedang dikaji untuk kawasan penangkaran, yakni Kenyamukan, Pantai Teluk Lingga, dan Muara Bengalon.
“Ada tiga tempat yang kita kaji, Kenyamukan, Pantai Teluk Lingga sama Muara Bengalon. Ini belum selesai semuanya,” katanya.
Kasus serangan buaya di Kutim dalam beberapa tahun terakhir terus berulang dan menelan korban jiwa. Terbaru, seorang pelajar SMP dilaporkan diserang buaya saat mengambil layang-layang di sekitar Dermaga Baru Kenyamukan, Sangatta Utara, Rabu (13/5).
Sebelumnya, seorang bocah berusia 10 tahun meninggal dunia usai diterkam buaya saat mandi di Sungai Jembatan 6 Kudung, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, pada Maret lalu.
Kondisi geografis Kutim yang didominasi sungai, rawa, muara, dan kawasan mangrove menjadi habitat alami buaya muara maupun buaya air tawar.
Di sisi lain, aktivitas masyarakat yang masih banyak dilakukan di sungai membuat potensi konflik antara manusia dan buaya terus terjadi.
Ardiansyah menegaskan pemerintah tetap mengikuti aturan perlindungan satwa liar dalam penanganan buaya.
“Kita ini mengikuti aturan bahwa tidak bisa membunuh satwa itu secara sewenang-wenang. Tapi kalau sudah mengganggu manusia, wajib kita tangani pungkasnya.












