KUTAI TIMUR, Gemparkutim.com – Rangkaian ritual adat Belian Semega kembali berlanjut pada malam kedua pelaksanaan dengan prosesi khusus yang dipimpin Kepala Adat Belian Semega Ahmad Yani.
Prosesi tersebut berlangsung pada Senin (6/7/2026) malam mulai pukul 21.00 WITA sebagai bagian dari perjalanan ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Tahapan malam kedua ini menjadi kelanjutan dari prosesi pembuka yang telah dilaksanakan pada Minggu (5/7/2026) malam. Dalam rangkaian kepala adat kembali menjalankan perannya sebagai pemimpin adat sekaligus menjalani tahapan ritual yang memiliki makna simbolik dalam kepercayaan masyarakat adat.

Salah satu prosesi utama pada malam tersebut adalah turun ke kolam pemandian. Dalam tahapan ini, Kepala Adat Ahmad Yani menjalani proses simbolik perubahan wujud seperti buaya yang menjadi bagian dari rangkaian kepercayaan adat Belian Semega.
Usai seluruh rangkaian di kolam pemandian selesai dilaksanakan, mulai dari prosesi puja-puja, pengobatan, hingga tahapan adat lainnya, perjalanan ritual kemudian dilanjutkan menuju bagian tanah yang disebut sebagai Kutai Taneh.
Pada tahapan Kutai Taneh, perjalanan ritual memiliki keterkaitan simbolik antara unsur tanah dan macan sebagai bagian dari rangkaian adat.
Selain itu, sajian juga diberikan kepada berbagai unsur yang dipercaya hadir dan mengikuti jalannya prosesi, di antaranya tanah, macan, tolong, embalun, hingga hantu burung.
Pemberian sajian tersebut menjadi bagian penting dalam prosesi adat sebagai bentuk penghormatan dan komunikasi simbolik terhadap unsur-unsur yang dipercaya memiliki peran dalam perjalanan ritual.
Namun, untuk pelaksanaan malam kedua ini, rangkaian perjalanan ritual hanya berlangsung hingga tahap pemberian sajian di bagian tanah. Setelah prosesi selesai, para pelaksana ritual belum diperbolehkan untuk langsung meninggalkan lokasi.
Sesuai aturan adat yang telah dijalankan pada tahun-tahun sebelumnya, seluruh unsur yang terlibat terlebih dahulu melakukan doa keselamatan kampung.
Doa tersebut berisi permohonan agar masyarakat diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, kemudahan dalam kehidupan, serta kesejahteraan bersama.
Dalam prosesi tersebut, seluruh unsur yang telah diberikan sajian dipercaya berkumpul kembali di lokasi utama, yakni alun-alun, untuk menunggu arahan atau perintah selanjutnya.
Mereka mengikuti aturan adat yang diyakini berkaitan dengan penunggu perintah kesultanan, termasuk unsur tanah dan para dewa yang dipercaya mengikuti jalannya prosesi.

Perjalanan ritual Belian Semega selanjutnya akan memasuki tahapan berbeda dengan jalur perjalanan dan lokasi pemberian sajian yang kembali berubah sesuai aturan adat.
Setiap tempat dalam rangkaian tersebut memiliki fungsi serta makna tersendiri yang menjadi bagian dari keseluruhan prosesi.
Pelaksanaan ritual Belian Semega menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya, nilai spiritual, dan tradisi leluhur yang masih terus dipelihara hingga saat ini.















