KUTAI TIMUR, Gemparkutim.com – Jalan nasional Sangatta–Bengalon, Kutai Timur (Kutim) longsor. Menggerus badan jalan.
Sejumlah titik jalan menyempit. Hanya menyisakan satu lajur aktif. Memaksa kendaraan dari dua arah melintas bergantian.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama pada jam sibuk dan saat cuaca buruk.
Antrean kendaraan kerap terjadi, sementara sistem buka-tutup masih dilakukan secara manual oleh pengguna jalan tanpa perlengkapan pengaman memadai.
Di lapangan, truk bertonase besar, kendaraan pribadi, hingga angkutan umum harus melintas dengan jarak dan ruang gerak terbatas.
Situasi ini dinilai berbahaya, khususnya pada malam hari karena minimnya penerangan dan rambu peringatan di beberapa titik longsoran.
Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kalimantan Timur, Viasmudji Bitticaca, memastikan penanganan longsoran tersebut telah masuk prioritas dan akan dikerjakan tahun ini.
“Karena ini aset jalan nasional, sudah kami usulkan dan disetujui. Penanganannya masuk prioritas dan akan dilaksanakan tahun ini,” ujarnya, Senin 19 Januari 2026.
Untuk tahap awal, anggaran penanganan diperkirakan sekitar Rp5 miliar hingga Rp5,5 miliar. Namun, nilai tersebut masih bersifat estimasi karena proses kontrak belum berjalan.
“Perhitungan kami berdasarkan penanganan longsoran, rata-rata berkisar Rp100 juta sampai Rp150 juta per meter,” jelasnya.
Viasmudji mengungkapkan, longsoran prioritas yang akan ditangani memiliki panjang sekitar 50 meter. Selain itu, terdapat sekitar 16 titik rawan longsor di sepanjang ruas Sangatta hingga Simpang Perdauwi yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Ada longsoran minor yang masih bisa dilewati dan ada juga yang sifatnya prioritas karena sudah menggerus setengah badan jalan,” katanya.
Sambil menunggu pekerjaan utama dimulai, BPJN melakukan penanganan sementara guna menekan risiko kecelakaan. Upaya preventif dilakukan melalui pemasangan bronjong maupun sandbag agar longsoran tidak semakin melebar dan badan jalan tetap bisa dilalui.
“Yang penting kami pastikan lalu lintas tetap berjalan, meskipun harus satu arah dengan sistem buka-tutup,” tambahnya.
Menurut Viasmudji, faktor pemicu longsor antara lain kondisi tanah yang relatif lunak, curah hujan ekstrem, serta beban kendaraan bertonase berat. Kombinasi faktor tersebut memperbesar potensi longsor susulan yang dapat membahayakan pengguna jalan.
“Kondisi tanah di ruas itu memang tanah lunak, ditambah hujan ekstrem dan beban kendaraan. Itu kombinasi yang memicu longsoran,” pungkasnya.
BPJN menargetkan pekerjaan penanganan permanen dapat dimulai setelah kontrak berjalan, paling lambat bulan depan. Sementara itu, pengguna jalan diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kecepatan saat melintasi kawasan rawan longsor tersebut.


















