Jadi Narsum Rakor Keuangan Desa Bengalon, Zeky Hamzah Dorong RPJMDes Berbasis Manfaat Warga.

Berita1896 Dilihat
banner 468x60

BENGALON, Gemparkutim.com — Rakor Rapat Koordinasi Keuangan Desa Triwulan I Tahun 2026 Kecamatan Bengalon digelar di Teras Pantai Sekerat, Rabu, 13 Mei 2026.

Kegiatan tersebut mengangkat semangat mewujudkan pengelolaan keuangan desa yang transparan, akuntabel, partisipatif, tertib, dan disiplin anggaran.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Tepian Langsat, Zeky Hamzah, hadir sebagai narsum.

Ia mendorong pemerintah desa untuk menyusun dan meninjau ulang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa atau RPJMDes dengan berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurut Zeky, pembangunan desa tidak semestinya hanya dipahami sebagai pembangunan fisik atau disesuaikan semata-mata dengan ketersediaan anggaran.

Lebih dari itu, perencanaan desa harus lahir dari kebutuhan masyarakat, melibatkan banyak pihak, serta memiliki arah yang jelas.

“Semua pihak harus diberi ruang untuk ikut berperan. Ilmu dan informasi tidak boleh hanya berhenti di kepala desa atau perangkat desa, tetapi harus sampai kepada masyarakat,” ujar Zeky.

Ia menjelaskan, kepala desa memiliki instrumen penting yang sah secara hukum, yakni musyawarah untuk mencapai mufakat.

Karena itu, setiap program desa perlu dirumuskan bersama dengan melibatkan PKK, LPM, BPD, perangkat desa, RT, dusun, hingga masyarakat.

Zeky yang telah hampir 10 tahun menjabat sebagai kepala desa itu menekankan bahwa pembangunan desa membutuhkan perencanaan matang, keberanian berinovasi, serta kemampuan menggerakkan seluruh unsur masyarakat.

Menurutnya, hal kecil yang berdampak langsung pada warga juga perlu masuk dalam perencanaan desa.

Ia mencontohkan pengalaman mendampingi seorang anak yang kurang mendapat perhatian keluarga dan memiliki kebiasaan kurang baik.

Melalui pendampingan yang serius, anak tersebut kemudian berkembang menjadi pemain sepak bola dan berhasil meraih predikat kiper terbaik pada pertandingan tingkat Kecamatan Bengalon.

Bahkan, anak tersebut turut membawa sekolah dan desanya menjadi juara pertama.

“Pengalaman sederhana itu menunjukkan bahwa perhatian kecil di desa dapat memberi dampak besar jika dilakukan secara serius dan berkelanjutan,” kata Zeky kepala desa tepian langsat

Terkait perubahan masa jabatan kepala desa dari enam tahun menjadi delapan tahun, Zeky menilai RPJMDes tidak harus selalu diubah total.

Hal yang lebih penting, menurutnya, adalah melakukan peninjauan kembali terhadap program yang sudah berjalan, menentukan prioritas, melihat sumber anggaran, serta memastikan program benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

“RPJMDes perlu ditinjau kembali. Mana yang sudah berjalan, mana yang prioritas, mana yang memiliki sumber anggaran, dan mana yang harus diperjuangkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Zeky juga membagikan pengalaman mengikuti benchmarking ke Tiongkok.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan kerja sama pemerintah Indonesia dan Tiongkok dalam bidang revitalisasi desa, ketahanan pangan, dan energi.

Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak menggunakan dana desa.

Dari kunjungan itu, ia menilai desa-desa di Indonesia dapat mengambil pelajaran tentang kedisiplinan, pengelolaan potensi, serta pentingnya arah pembangunan yang jelas. Menurutnya.

desa tidak perlu menyusun perencanaan yang terlalu muluk, tetapi harus mampu menerjemahkan visi kepala desa ke dalam misi yang selaras dengan program kabupaten, provinsi, dan pusat.

Dalam bidang ketahanan pangan, misalnya, desa dapat mulai merancang produk unggulan.

Potensi desa, kata dia, tidak selalu harus ditemukan, tetapi juga dapat diciptakan melalui pengelolaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Untuk Desa Sekerat, Zeky menilai pengembangan desa wisata tidak harus hanya mengandalkan pantai. Keramahan masyarakat, kenyamanan suasana, glamping, produk UMKM, kuliner khas, hingga event desa juga dapat menjadi daya tarik wisata.

Ia juga mengingatkan bahwa desa tidak perlu membangun hanya untuk mengejar penghargaan.

Menurutnya, prestasi seperti PADes tertinggi di Kalimantan Timur maupun BUMDes terbaik di Indonesia merupakan hasil kerja bersama, bukan tujuan utama pembangunan.

“Penghargaan itu hanya validasi. Jangan membangun desa hanya untuk mengejar prestasi. Bangunlah desa karena itu tanggung jawab kita,” tegasnya.

Menghadapi penurunan dana desa dan keterbatasan anggaran, Zeky meminta para kepala desa tetap bergerak. Ia menyebut, kepemimpinan justru diuji ketika anggaran terbatas.

Ia juga mengajak desa melihat program nasional, seperti Koperasi Desa Merah Putih, secara positif. Menurutnya, jika desa diberi kesempatan dan dukungan,

maka pemerintah desa perlu merancang agar program tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kewenangan desa. Tutup nya

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *