Dari Panggung Kafe, Musisi Muara Wahau Jaga Eksistensi di Tengah Keterbatasan

Hiburan53 Dilihat
banner 468x60

KUTIM, Gemparkutim, com – Panggung kafe menjadi salah satu ruang bagi musisi lokal Kutai Timur (Kutim) untuk menjaga eksistensi. Namun, kesempatan tampil bagi musisi di Kecamatan Muara Wahau masih terbatas. Aktivitas bermusik pun lebih banyak dijalankan secara mandiri di sela pekerjaan utama.

Kondisi tersebut dirasakan Rangga Budi Lugitu, personel Teras Band yang biasa tampil di sejumlah kafe di Muara Wahau. Saat ini, Teras Band rata-rata hanya tampil sekali dalam sepekan.

“Untuk saat ini di Wahau kami baru seminggu sekali. Sebenarnya untuk menjaga konsistensi, karena kafe di Wahau masih terbatas, tidak seperti di Sangatta. Kebetulan kami juga punya pekerjaan tetap, jadi kami ambil momentum di akhir pekan,” kata Rangga.

Rangga bekerja di perusahaan, begitu pula gitaris Teras Band. Sementara personel bass menjalankan usaha sendiri. Bermusik menjadi aktivitas yang dilakukan di sela rutinitas tersebut.

Meski sudah aktif tampil, Rangga mengatakan Teras Band belum mendapatkan fasilitasi maupun program pembinaan dari Pemkab Kutim sebagai pelaku ekonomi kreatif bidang musik.

“Selama ini belum. Semuanya kami usahakan secara mandiri. Sentuhan dari pemerintah maupun Pemkab Kutim juga belum kami rasakan,” ujarnya.

Menurut Rangga, dukungan pemerintah tidak harus selalu berupa bantuan materi. Pembinaan dan penyediaan panggung dinilai lebih penting untuk membuka ruang bagi musisi lokal sekaligus mencari talenta baru.

“Dukungan yang dibutuhkan mungkin pembinaan, salah satunya. Kemudian pembuatan event-event agar individu yang punya bakat bisa muncul,” katanya.

Ia menilai kegiatan musik yang menghadirkan musisi dari luar daerah perlu diimbangi dengan kesempatan bagi talenta lokal. Sebab, menurutnya, panggung menjadi salah satu cara menemukan sekaligus mengembangkan musisi baru.

“Kalau ada event sebenarnya selalu ada talenta-talenta baru yang muncul. Justru itu penting untuk regenerasi,” ujarnya.

Bagi Rangga, tampil di kafe bukan hanya persoalan mendapatkan penghasilan. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk mempertahankan kemampuan bermusik di tengah kesibukan pekerjaan.

“Untuk saat ini memang karena jiwa musik. Dari sisi ekonomi ada juga, cukup untuk beli senar gitar. Untuk dua sesi reguler masih cukup. Tapi yang utama kami bisa menyalurkan bakat dan melepas penat,” katanya.

Ia menyebut aktivitas bermusik juga membantu menjaga keseimbangan setelah menjalani pekerjaan selama sepekan.

“Kami kan pegawai. Jadi kalau dalam satu minggu hobi ini tidak tersalurkan, rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Persoalan lain yang dihadapi musisi di Muara Wahau adalah belum adanya komunitas khusus yang menjadi wadah bersama. Komunikasi dengan musisi dari Sangatta sudah terjalin, tetapi belum terbentuk dalam sebuah komunitas.

Rangga berharap komunitas musisi dapat dibentuk di Muara Wahau. Wadah tersebut diharapkan tidak hanya berisi musisi dengan satu genre, tetapi dapat mempertemukan berbagai aliran musik.

“Pengin banget. Tujuannya ketika ada komunitas musik, berbagai jenis musik bisa bergabung, baik musik daerah, tradisional maupun modern. Berbagai genre bisa menjadi satu. Dari situ kita bisa melihat dan menyaring talenta-talenta yang ada,” katanya.

Menurutnya, komunitas juga dapat menjadi ruang untuk menyiapkan regenerasi. Anak-anak muda, termasuk pelajar SMA, dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kemampuan bermusik jika mendapatkan pembinaan dan ruang tampil.

“Harapannya di Wahau semakin banyak musisi dan kami mendapatkan regenerasi berikutnya,” ujarnya.

Rangga mengakui peluang musisi lokal untuk masuk ke panggung yang lebih besar masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu yang paling terasa di Muara Wahau adalah minimnya panggung.

“Kalau melihat industri musik sekarang, memang agak berat. Perubahan dan pergeseran industri musik sudah banyak. Dari 2024, 2025 sampai 2026 juga belum ada band atau wajah baru yang benar-benar muncul,” katanya.

Meski demikian, Teras Band terbuka jika mendapat kesempatan tampil di Sangatta maupun wilayah lain. Selama jadwal pekerjaan memungkinkan, mereka siap berpartisipasi dalam kegiatan musik.

Selain tampil, Teras Band juga memiliki rencana untuk membuat karya sendiri. Namun, rencana tersebut masih terkendala fasilitas.

“Belum. Itu justru menjadi target kami. Tapi fasilitasnya memang belum ada,” ujarnya.

Rangga menilai musisi yang tampil di kafe semestinya ditempatkan sebagai bagian dari pelaku ekonomi kreatif. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak sebatas menjadi hiburan, tetapi sudah masuk dalam ranah profesi.

“Menurut saya, secara umum musisi yang bermain di kafe sudah seharusnya dipandang sebagai pelaku ekonomi kreatif,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah memberikan ruang lebih besar bagi musisi lokal untuk berkembang. Fasilitas seperti studio bersama dan pelatihan dinilai dapat membantu musisi mengembangkan kemampuan sekaligus menghasilkan karya. (*/GK8)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *