Musik Tingkilan “Untung Benua” Merawat Tradisi Melalui Kreativitas Generasi Muda

Hiburan, Viral2154 Dilihat
banner 468x60

Kutai Timur, Gemparkutim.com — Upaya pelestarian musik tradisional terus dilakukan oleh para seniman muda di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Salah satunya melalui kelompok kesenian musik Tingkilan “Untung Benua” yang berkomitmen menjaga warisan budaya daerah dengan menghadirkan konsep musik tradisional yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Rabu 13/10/2026

Grup musik Tingkilan “Untung Benua” diperkuat oleh para musisi muda yaitu Kresentia Setin (Tia) sebagai vokalis, Akhmad Husaini sebagai pemain gambus, Rembang Ismailbass, Yoyok Eprianto  gitar, Fitri Oktavianzah suling, Aprialdo cak, Rahmat Nur Ramadhan cuk, serta Abdul Wahid Ramadhan sebagai pemain drum.

Syaiful Bahri Angotta DPRD Kutim dan Ketua Kormil

Syaiful Bahri, menjelaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk asli, tetapi juga membutuhkan inovasi agar tetap diminati oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Menurutnya, musik tradisional yang hanya dimainkan dalam format lama terkadang sulit menarik perhatian generasi saat ini. Oleh karena itu, dilakukan pengembangan dengan memadukan unsur musik modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang menjadi identitas utama.

“Musik tradisional ini kita kembangkan mengikuti perkembangan zaman. Para pemain yang terlibat sebagian besar memiliki latar belakang sebagai pemain band, sehingga kemampuan bermusik mereka kita padukan dengan unsur tradisional agar musik ini tidak monoton dan tetap diminati masyarakat,” ujar Syaiful angotta Dewan DPRD Kutim Fraksi PKS

Salah satu bentuk pengembangan dilakukan pada musik Tingkilan. Musik khas daerah ini memiliki karakter sederhana dengan instrumen utama gambus, namun melalui kreativitas para seniman muda, Tingkilan dikemas lebih dinamis dengan sentuhan alat musik modern seperti gitar, bass, dan drum.

Saiful Bahri menegaskan bahwa budaya tidak boleh berhenti pada satu bentuk, melainkan harus mampu beradaptasi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Tradisional bukan berarti harus berhenti berkembang. Budaya harus bisa beradaptasi agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh semua kalangan,” katanya.

Perjalanan Panjang Membawa Nama Bengalon

Pembinaan seni budaya di Bengalon telah berjalan sejak tahun 2006. Dalam perjalanannya, kelompok seni yang dibina  telah mengikuti berbagai kegiatan dan pertunjukan budaya, mulai dari tingkat Kabupaten Kutai Timur, Provinsi, hingga panggung internasional.

Salah satu pencapaian besar terjadi ketika para seniman Bengalon dipercaya mewakili Kabupaten Kutai Timur dalam ajang Chingay Parade di Singapura pada tahun 2013.

Dalam kesempatan, sekitar 60 seniman yang terdiri dari pemain musik dan penari tampil membawa identitas budaya daerah ke tingkat internasional.

“Alhamdulillah, anak-anak yang kita bina mampu membawa nama Kutai Timur hingga ke luar daerah bahkan internasional. Ini menjadi kebanggaan karena mereka mampu menunjukkan bahwa seni daerah kita memiliki kualitas dan daya tarik yang besar,” ungkap Syaiful.

Syaiful Bahri menambahkan, seluruh personel yang terlibat merupakan masyarakat asli Bengalon dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan suku dan budaya tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan dalam membangun kolaborasi seni.

“Anak-anak kita berasal dari berbagai latar belakang suku, ada Dayak, Kutai, dan suku lainnya. Namun melalui seni, semuanya bisa menyatu. Yang terlihat saat tampil bukan perbedaan mereka, tetapi kekompakan dalam berkarya,” jelasnya.

Seni Sebagai Ruang Positif Generasi Muda

Selain menjaga kebudayaan daerah, kegiatan seni juga menjadi sarana pembinaan karakter generasi muda. Syaiful Bahri menilai bahwa seni dan olahraga tradisional memiliki peran penting dalam memberikan ruang positif bagi anak muda untuk menyalurkan kreativitas dan bakat mereka.

Menurutnya, energi besar yang dimiliki generasi muda harus diarahkan melalui kegiatan yang membangun agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja.

“Anak-anak muda sebenarnya memiliki energi dan kreativitas yang besar. Kalau diarahkan melalui kegiatan positif seperti seni dan olahraga, mereka memiliki ruang untuk berkembang sekaligus mengurangi pengaruh negatif dalam kehidupan mereka,” tuturnya.

Melalui kelompok musik Tingkilan “Untung Benua”, para seniman Bengalon berharap musik tradisional tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi menjadi identitas budaya yang terus tumbuh bersama generasi baru.

Dengan kreativitas, kolaborasi, dan semangat generasi muda, musik Tingkilan diharapkan mampu terus berkembang serta menjadi kebanggaan masyarakat Bengalon dan Kabupaten Kutai Timur di masa mendatang.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *