Diskop UKM Kutim Fokus Kembangkan Produk Unggulan Berorientasi Pasar

Pemerintahan1192 Dilihat
banner 468x60

KUTIM, Gemparkutim.com – Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memfokuskan pengembangan sejumlah produk unggulan daerah agar memiliki daya saing yang lebih luas, baik di pasar nasional maupun ekspor. Penguatan dilakukan tidak hanya pada produk utama, tetapi juga melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah.

Kepala Diskop UKM Kutim Marhadyn mengatakan beberapa komoditas yang menjadi perhatian antara lain nanas Himba di Bengalon, pisang Grecek dari Kaubun dan Kaliorang, kakao dari Karangan, Kaubun, dan Pengadan, serta gula aren.

Menurutnya, masing-masing komoditas didorong memiliki produk turunan yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Nanas, misalnya, dikembangkan menjadi serat nanas, manisan, dan minuman. Sementara pisang Grecek diarahkan menjadi tepung pisang hingga produk olahan yang memiliki pasar ekspor.

“Pisah Grecek yang ada di Kaubun dan Kaliorang itu kita akan dengan produk turunannya seperti Pisang Kalbana, roti box yang sudah tembus Belgia. Hanya kita akan supporting lagi pasarnya itu,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan pisang Grecek juga diarahkan agar tidak hanya dipasarkan dalam bentuk buah segar.

“Bagaimana pisang Grecek ini bisa jadi tepung, tidak diekspor dalam bentuk pisang tapi dalam bentuk tepung ke Malaysia,” ujarnya.

Untuk komoditas kakao, Diskop UKM turut mendorong pengembangan produk hilir seperti Coklat Mantan dan Coklat Borneva. Selain itu, gula aren juga akan diperkuat melalui produksi gula semut.

Marhadyn mengatakan pengembangan produk unggulan membutuhkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah agar program yang dijalankan tidak saling tumpang tindih.

“Bagaimana berkoordinasi dengan baik supaya kita bergeraknya sama-sama. Sehingga tidak ada tumpang tindih, tidak ada saling mengklaim program tapi betul-betul satu program yang kita keroyokin bersama,” katanya.

Terkait harga produk olahan kakao lokal yang dinilai masih lebih tinggi dibanding produk sejenis di pasaran, Marhadyn menilai persoalan tersebut berkaitan dengan biaya produksi. Menurutnya, produk yang ditujukan untuk pasar lokal perlu menyesuaikan spesifikasi agar harganya lebih kompetitif.

“Kalau memang produk Coklat Mantan ini mau didagangkan di lokal maka kualitasnya kualitas lokal saja, jangan paksa dengan produk yang kita mau jadikan produk keluar,” ujarnya.

Ia juga menilai upaya menekan biaya produksi tidak bisa hanya dibebankan kepada pelaku usaha. Diperlukan keterlibatan perangkat daerah lain, terutama yang membidangi sektor industri, untuk mencari teknologi maupun skema produksi yang lebih efisien.

“Kalau biaya produksinya kita bisa tekan, maka kita bisa menurunkan harga daripada harga penjualan itu,” pungkasnya. (*/GK8)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *